PUDING DAUN KELOR CEMILAN SEHAT PENDAMPING ASI DI DESA KAYULOE TIMUR KECAMATAN TURATEA KABUPATEN JENEPONTO

  • Nurleli STIK Makassar
  • Suci Amaliah Jumade Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar
Keywords: Stunting, MP-ASI, Kelor

Abstract

Pemberian asupan nutrisi yang kurang tepat, akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan balita jangka panjang, bersifat permanen dan sulit untuk diperbaiki, salah satunya adalah stunting. Hasil Riset Kesehatan Dasar menunjukkan prevalensi stunting di Indonesia sebesar 36,8% (2007). Tahun 2010, mengalami penurunan menjadi 35,6%, namun kembali meningkat pada tahun 2013, yaitu menjadi 37,2%. Tetapi Hasil riskesdas tahun 2018 menunjukkan penurunan kembali yaitu 30,8%. Namun Angka tersebut belum mencapai target WHO yaitu < 20%. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah salah satunya adalah Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI). Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) dapat dibuat dari bahan pangan lokal. Kelor kaya akan zat gizi makro dan mikro dan mudahkan didapatkan ditengah masyarakat. Kandungan gizi yang tinggi dalam daun kelor dapat dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi balita dalam masa pertumbuhan. Namun Daun kelor memiliki kelemahan yaitu mempunyai aroma langu, agar bayi dan balita dapat menerima makanan tersebut untuk di konsumsi dilakukan inovasi pembuatan cemilan sehat berupa puding berbahan dasar daun kelor. Hasil program Pembuatan Cemilan Sehat berbahan dasar kelor di Desa Kayuloe timur Kecamatan Turatea Kab. Jeneponto menjadi salah satu alternatif makanan selingan yang sehat dan bergizi, sehingga balita dapat mengkonsumsi sayuran tersebut tanpa harus melakukan gerakan tutup mulut (GTM).

Published
2021-03-20